Kamis, 28 Mei 2009

Selasa, 2008 Desember 23

Ringkasan Bahasa Indonesia: Puisi

Puisi adalah jenis karangan yang dalam penyajiannya sangat mengutamakan keindahan bahasa dan kepadatan makna.

Unsur-unsur puisi :
  1. Tema yaitu pokok persoalan yang akan diungkapkan oleh penulis puisi. Tema tersirat dalam keseluruhan puisi.
  2. Rasa yaitu sikap penulis puisi terhadap pokok persoalan yang terkandung dalam puisi.
  3. Nada yaitu sikap penulis puisi terhadap pembacanya. Nada berkaitan erat dengan tema dan rasa. Hal ini ditunjukkan dengan adanya sikap merayu, mengadu, mengkritik, dan sebagainya.
  4. Amanat yaitu pesan yang ingin disampaikan penulis puisi dalam puisinya.

Jenis puisi berdasarkan bentuknya :

  1. Puisi terikat yaitu puisi yang terikat oleh aturan-aturan bait, baris, dan rima. Contoh : pantun, syair, sonata,distikon, terzina, kuatrain, kuint, sektet, septima, dan okataf
  2. Puisi bebas yaitu puisi yang tidak terikat oleh aturan-aturan bait, baris, dan rima. Contoh : Puisi karangan Chairil Anwar, Taufik Ismail, WS Rendra,Puisi kontemporer karangan Sutardji Calzuom Bachri

Kamis, 23 April 2009

BUKU HARIAN

BUKU HARIAN
Model-model menulis Buku Harian
Model-model menulis buku harian berdasarkan cara pengungkapannya dapat dibedakan atas:
a. berdasarkan hasil pemikiran
b. berdasarkan hasil perenungan atau perasaan
c. berdasarkan hasil pengalaman.
a. Berdasarkan Hasil Pemikiran
Biasanya orang menggunakan teknik ini jika ia ingin menuliskan sesuatu yang terpikirkan pada saat itu. Pikiran ataupun gambaran tentang sesuatu peristiwa,orang, tempat, waktu, bahkan mimpi pun dapat diungkapkannya. Hal-hal yang sulit dilupakan yang merupakan penggalan dari perjalanan hidup seseorang. Para penulis buku harian biasanya senang menggunakan teknik ini. Mengapa? Karena teknik ini dapat menggambarkan semua peristiwa yang dipikirkan penulisnya.
Contoh:
Aku hampir saja yakin bahwa pemerintah memperhatikan rakyatnya. Buktinya kini ada dana BOS yang dapat meringankan beban kedua orang tuaku membiayai sekolahku. Mungkin memang pemerintah mulai memikirkan rakyatnya.

b. Berdasarkan Hasil Perenungan:

Pada model ini penulis dapat menuangkan hasil perenungan dirinya atas suatu kejadian/peristiwa yang dialaminya baik yang menyenangkan, menjengkelkan, mengecewakan, ataupun menyakitkan hati yang dapat mengubah sifat atau karakter diri. Berdasarkan hasil perenungannya penulis dapat mengambil hikmah dari semua kejadian yang telah dialaminya. Misalnya jika penulis adalah seorang yang boros maka ia akan merenungkannya sehingga ia tidaklah boros lagi.

Seperti contoh yang ditulis Anton berikut ini.
Sepertinya aku ini termasuk orang yang boros. Bayangkan! Baru aja mami ngasih doku ke aku.
Memberi uang
Aku sudah habiskan itu semua. Ya, Allah berilah petunjuk-Mu
c. Berdasarkan Hasil Pengalaman
Pengalaman merupakan sesuatu hal yang sangat pribadi. Pengalaman akan sangat menarik bila dituliskan dengan sajian yang menarik. Tentunya kita harus mengingat kejadian apa yang kita alami dan sangat berkesan.

Perhatikan contoh berikut:
Wah, senangnya aku bisa ikut pemilihan cover girl versi SMP-ku. Coba bayangkan dari 50 peserta, aku bisa masuk final dan berada di peringkat kedua. Cuma hari ini aku sedih sebabnya doiku sakit jadi nggak bisa datang deh.

Manfaat Harian
a. Teman untuk mencurahkan hati (curhat)
b. Bahan biografi
c. Bahan cerita, bisa saja kita jadikan cerpen/novel
d. Cermin diri sebagai evaluasi diri
a. Teman untuk Mencurahkan Hati (Curhat)
Seringkalai kita sulit untuk mengungkapkan perasaan kita kepada orang lain karena bisa saja apa yang kita utarakan, teman atau orang lain tersebut tidak bisa menyimpan rahasia kita. Sepertinya sulit mencari orang yang benar-benar dapat kita percayai.
Buku harian dapat kita jadikan teman atau tempat untuk mencurahkan hati/perasaan kita, istilah sekarang Curhat. Mengapa tidak? Bila kita sudah mencurahkan segala isi hati kita, maka kita akan merasa lega.
b. Bahan Biografi

Buku harian dapat menjadi bahan biografi dan membagi pengalaman bagi orang yang membacanya. Buku harian yang bisa menjadi monumental misalnya: Catatan Harian Seorang Demonstran: Soe Hok Gie, bahkan difilmkan. Begitu pula dengan Buku Harian Anne Frank.
c. Bahan Cerita
Pelajaran bahasa Indonesia
Pelajaran Matematika
Tidak
Bagaimana
Menjemukan/membosankan
Benar-benar/sangat
Di masa sekarang ini banyak remaja yang mengangkat buku hariannya menjadi novel. Ada beberapa yang sudah difilmkan, misalnya: Eiffel I’m in Love.

c. Sebagai Evaluasi Diri/Cermin Diri
Buku harian yang kita tulis dapat sebagai bahan untuk mengevaluasi apa yang telah kita lakukan. Dengan mengevaluasi diri, maka dapat menjadi cermin bagi diri kita untuk memperbaiki prilaku/perbuatan kita yang salah/ menyimpang. Dengan demikian, kita akan menjadi orang yang lebih baik di masa yang akan datang.


Pengertian Buku Harian:
Setiap orang dalam kehidupan ini pasti mengalami berbagai pengalaman. Ada yang menarik, menjengkelkan, mengecewakan, bahkan membuat putus asa. Semua pengalaman tersebut dapat saja diungkapkan/dicurahkan kepada orang lain. Apakah itu teman, orang tua, guru, atau siapa saja. Jika tidak ada seseorang yang dapat mencurahkan pengalaman, bisa juga perasaan, pemikiran, bahkan hasil perenungan, kita bisa menuliskannya pada buku harian.
Jika menganggap menulis buku harian adalah sesuatu yang bodoh dan membuang-buang waktu adalah salah besar. Betapa banyak orang yang menulis buku harian bisa menjadi terkenal. Seprti: Buku Harian Seorang Demonstran yang ditulis oleh Soe Hok Gie, belum lama ini difilmkan, dan filmnya cukup menarik perhatian kaum muda. Begitu juga, dengan Buku Harian Anne Frank yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, buku harian artinya buku tulis yang berisi catatan kegiatan yang harus dilakukan dari kejadian yang dialaminya setiap hari. Buku harian bisa merupakan buku catatan pribadi yang berisi catatan kejadian atau pengalaman seseorang yang dialami setiap hari.
Buku harian ada bermacam-macam. Ada yang bertanggal yang biasanya disebut agenda dan tidak bertanggal biasa disebut diary. Kata diary merupakan istilah bahasa Inggris untuk buku harian.
Tata cara Menulis Buku Harian
a. Catatlah pada buku diary yang tersedia, jika tidak ada.
b. Pada buku tebal agar dapat dipakai dalam jangka waktu lama.
c. Gunakan tinta permanen agar tidak mudah luntur, dianjurkan menggunakan pulpen.
d. Cantumkan tanggal dan hari penulisan buku harian.
d. Usahakan tidak banyak menggunakan singkatan agar kita mudah memahami isi catatan harian kita.
e. Tulislah kejadian dengan segera untuk mengingatnya.
f. Tulislah catatan harian kita dengan jujur sesuai dengan kejadian yang sebenarnya.
g. Jika ada guntingan koran/majalah yang berhubungan dengan prestasi kita jangan lupa tempelkan pada buku harian kita.

Teknik Mengubah Buku Harian menjadi cerita
a. Berilah tanda pada catatan harian kita yang merupakan peristiwa penting dalam kehidupan kita
b. Rangkailah peristiwa-peristiwa tersebut secara kronologis
c. Kembangkan setiap peristiwa dengan imajinasi

Rabu, 01 April 2009

PIDATO

PIDATO
JENIS DAN METODE

Public speaking merupakan bagian kehidupan sosial umat manusia. Mereka saling berkomunikasi satu sama lain dalam suatu kesempatan atau forum-forum tertentu. Ada beberapa jenis public speaking yang kita kenal di antaranya adalah:
1. Khotbah. Berbicara di muka umum khususnya untuk tujuan penyampaian pesan-pesan agama.
2. Propaganda. Berbicara di muka umum untuk menyampaikan ide dengan upaya keras meyakinkan pendengar.
3. Kampanye. Berbicara di muka umum untuk kelompok tertentu (partai) dengan mempengaruhi massa.
4. Penerangan. Berbicara di muka umum untuk menerangkan sesuatu, misalnya program, permasalahan, pembangunan dan lain sebagainya.
5. Agitasi. Berbicara di muka umum dengan tujuan untuk membakar semangat massa.
6. Orasi ilmiah. Berbicara di muka umum, khususnya untuk masyarakat ilmiah, yang dilakukan oleh seorang ahli dengan menggunakan bahasa teoritis, ilmiah dan rasional.
7. Reportase. Berbicara di muka umum untuk menyampaikan laporan tentang sesuatu kejadian secara terbuka.
Berbicara di muka umum bukanlah hal yang mudah dilakukan oleh setiap orang, namun bukan pula hal yang teramat sulit untuk dipelajari. Untuk dapat berbicara di muka umum dengan baik membutuhkan kesiapan mental dan memerlukan keterampilan dalam penggunaan kata-kata, bahasa, logat, mimik wajah, peralatan dan penguasaan materi. Jam terbang atau pengalaman seseorang dalam berbicara di muka umum sangat berpengaruh terhadap kualitas pembicaraannya. Sebagai pedoman yang kiranya dapat membantu, ada baiknya memperhatikan metode-metode public speaking berikut ini:
1. Metode langsung. Disebut dengan metode impromptu, yaitu berpidato secara langsung dengan mengandalkan kemampuan, kemahiran dan wawasan ilmu. Dilakukan tanpa persiapan yang memadai.
2. Metode naskah. Berbicara di muka umum dengan bantuan naskah atau teks tertulis yang telah dipersiapkan. Dapat kita jumpai dalam pidato kenegaraan, siaran televisi atau acara-acara resmi.
3. Metode hafalan. Berpidato dengan menghafal naskah atau teks yang telah dipersiapkan, khususnya dalam penggunaan bahasa.
4. Metode variatif. Menggabungkan ketiga metode sebelumnya. Dilakukan secara langsung dengan memperhatikan urut-urutan pembicaraan dan didukung persiapan naskah atau kerangka pidato. Penggunaan bahasa dan kata-kata yang dipilih relatif bebas, namun isi pembicaraan berorientasi pada naskah.
SUSUNAN PEMBICARAAN

Menyusun pembicaraan di muka umum agar dapat menjelaskan permasalahan dan memuaskan pendengar memerlukan keterampilan tersendiri. Secara umum susunan pidato -khususnya dalam acara resmi- memiliki sistimatika sebagai berikut:

1. Pembukaan.
Islam mengajarkan agar pembicaraan kita bermanfaat dan mendapat rahmat Allah. Untuk itu pidato yang baik perlu dimulai dengan salam, memuji Allah, bersyahadat dan bershalawat kepada Rasulullah. Untuk membuka pembicaraan, disampaikan ucapan terima kasih atas kesempatan berbicara yang diberikan, memperkenalkan diri dan menyampaikan secara ringkas pokok-pokok pembicaraan yang akan dibahas. Maksud dari pembukaan adalah untuk mengajak para hadirin memperhatikan pembicaraan dan mempersiapkan mereka untuk berkonsentrasi pada masalah yang akan disampaikan.

2. Isi bahasan.
Sebagai inti dari berbicara di muka umum atau berpidato, isi bahasan harus:
a. Disampaikan dengan jelas, sistimatis dan menggunakan bahasa efektif.
b. Memiliki kerangka pembicaraan yang urut dan dapat dimengerti oleh pendengar.
c. Membahas tema dengan disertai alasan-alasan yang kuat serta didukung informasi, fakta, data dan analisa yang logis.
d. Untuk ceramah agama Islam, menyampaikan ayat-ayat Al Quraan dan atau Al Hadits yang berhubungan erat dengan pembahasan.
Pada prinsipnya, seseorang yang berbicara di muka umum harus menyampaikan pokok-pokok bahasan dengan bahasa yang tepat dan ulasan yang memikat; jelas apa yang dia maksudkan, argumentatif dan dapat dimengerti para pendengarnya.

3. Penutup.
Merupakan rangkuman dan kesimpulan pembicaraan yang telah disampaikan. Menjadi klimaks dari pidato, sehingga memberi kesan yang kuat pada hadirin. Bilamana perlu disertai do’a dan harapan. Setelah itu diakhiri dengan permohonan ma’af bila ada kekhilafan dan ditutup dengan salam.
TEKNIK BERPIDATO

Untuk berbicara di muka umum diperlukan teknik-teknik tertentu yang harus dipahami. Bukan hanya teknik saat berbicara saja yang sangat penting, tapi persiapannya sendiri merupakan faktor yang sangat mempengaruhi keberhasilan.

1. Teknik mempersiapkan pidato.
a. Menentukan tujuan. Biasanya dinyatakan dalam tema atau judul pidato.
b. Memahami pendengar. Apakah hadirinnya anak-anak atau dewasa, laki-laki atau perempuan, bagaimana tingkat pendidikannya, lingkungan masyarakatnya, jenis forumnya, bagaimana tanggapannya dan lain sebagainya.
c. Menyusun pidato dengan baik. Bilamana perlu dibuatkan naskah dengan didukung referensi yang sesuai.
d. Berlatih dengan serius, baik materi, vokal, bahasa, gaya, intonasi dan lain sebagainya.
e. Mempersiapkan diri, baik fisik maupun mental, terutama rasa percaya diri.
f. Menghadiri forum sebelum acara dimulai.

2. Teknik melaksanakan Pidato
a. Berpenampilan rapi dan sopan disesuaikan dengan forum.
b. Menyampaikan pidato dengan tenang, penuh rasa percaya diri dan menghargai pendengar.
c. Menguraikan pidato secara sistimatis. Bilamana perlu diselingi dengan humor (bukan lelucon).
d. Menerangkan permasalahan secara jelas, argumentatif dan dapat didengar maupun dimengerti para hadirin.
e. Mengatur dan memperhatikan waktu bicara.
f. Bila terjadi kekurangan atau kekhilafan tidak segan untuk meminta ma’af.
g. Membuka dan mengakhiri pembicaraan dengan salam.






PENUTUP

Kemampuan berbicara di muka umum (public speaking) sangat banyak manfaatnya, di antaranya membantu para da’i atau mubaligh dalam menda’wahkan Islam. Dengan keahliannya yang memukau seorang da’i dapat menerangkan Islam dengan jelas dan mudah mengajak jama’ah untuk meningkatkan iman dan taqwa.
Demikian pula bagi anggota dan pengurus Remaja Masjid, kemampuan public speaking sangat menunjang keberhasilan dalam berorganisasi. Karena dengan kemampuan berbicara di muka umum yang baik seorang aktivis Remaja Masjid dapat menjelaskan gagasannya, mengajukan usul, bertanya dan menyampaikan pendapat secara jelas serta memudahkannya dalam memimpin, memberi motivasi, melakukan koordinasi dan lain sebagainya

contoh wawancara

DAFTAR PERTANYAAN SEBAGAI PEDOMAN WAWANCARA
A. Analisis Lingkungan
1. Apa makna UU No.22/1999 tentang Pemerintahan Daerah (Otonomi Daerah)
terhadap keberadaan DISPARINKOM, khususnya dalam pengembangan SDM
di DISPARINKOM?
a. mendukung dan memberdayakan dinas
b. tidak ada bedanya
c. menghambat dan mempersulit gerak dinas
2. Apa makna Perda No.26/2000 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja
Dinas-Dinas di Gresik, terhadap kegiatan di Dinas Pariwisata Informasi dan
Komunikasi Gresik?
a. meningkatkan efektifitas dan efisiensi dinas
b. kurang ada dampaknya
c. memperlamban dan membebani aktivitas dinas
3. Apakah perubahan menyangkut susunan organisasi yang terjadi selama ini
anda pandang menguntungkan atau tidak?
a. sangat menguntungkan bagi organisasi
b. tidak ada bedanya
c. tidak menguntungkan bagi organisasi
4. Bagaimana kebutuhan SDM di DISPARINKOM dan tantangannya dalam
menghadapi era otonomi Daerah di masa depan?
a. sudah memenuhi kebutuhan dalam rangka otonomi
b. biasa saja
c. masih jauh dari harapan otonomi
5. Bagaimana strategi anda menghadapi perubahan lingkungan, baik menyangkut
perubahan struktur akibat perda, maupun tuntutan dalam era otonomi daerah
dalam mengembangkan kompetensi SDM di DISPARINKOM Gresik?
a. aktif dalam usaha meningkatkan kompetensi pribadi
8 1
b. ikut apa kata organisasi
c. tidak ada strategi khusus
6. Uang seringkali menjadi kendala dalam setiap kegiatan. Bagaimana anda
memandang sumber daya keuangan dalam DISPARINKOM ini dalam
pengembangan SDM di masa depan?
a. sudah cukup memadai
b. kurang memadai
c. sama sekali kurang
7. Bagaimana cara anda menggali sumber keuangan yang ada?
a. selalu mencari terobosan mendapatkan sumber-sumber baru
b. memanfaatkan apa yang sudah digariskan APBD
c. lebih baik mengurangi aktifitas dari pada harus menanggung beban
8. Masalah uang dalam dinas pemerintah, selalu terkait dengan pihak lain, seperti
DPRD, bagaimana anda memaksimalkan semua potensi untuk meyakinkan
DPRD dalam memperoleh sumber dana yang memadai bagi kepentingan dinas
anda?
a. menjalin kerjasama anggota DPRD
b. membuat program yang realitis
c. membuat anggaran yang tidak memberatkan
9. Bagaimana anda mengalokasikan dana yang ada, khususnya dalam
pengembangan SDM?
a. mengutamakan untuk kesejahteraan pegawai
b. mengutamakan pendidikan dan latihan
c. memberikan dana bantuan bagi pegawai yang kursus
10. Bagaimana sikap anda bila keuangan tidak mampu membiayai pengembangan
SDM yang diprogramkan?
a. terpaksa membatalkan program
b. mencari dana tambahan yang sah
c. membuat prioritas program
11. Bagaimana tanggapan masyarakat terhadap dunia pariwisata di Gresik?
a. mendukung
8 2
b. sedang
c. tidak mendukung
12. Apakah masyarakat Gresik mengikuti informasi yang disampaikan oleh UPTD
anda?
a. sering
b. jarang
c. tidak pernah
13. Apakah ada gangguang nilai dan norma sosial dalam pengembangan
pariwisata di Gresik?
a. ada
b. jarang
c. tidak tahu
14. Apakah keberadaan pariwisata di Gresik membantu perekonomian
masyarakat?
a. ya
b. cukup
c. tidak
15. Apakah masih banyak budaya atau obyek wisata yang belum digali untuk
pariwisata Gresik di masa depan?
a. Ya
b. Jarang
c. Tidak
A. Analisis Organisasional
1. Bagaimana gaya kepemimpinan atasan anda? Demokratis atau tidak? Apakah
memberi keleluasaan anda bekerja?
a. demokratis
b. biasa saja
c. mengekang
2. Bagaimana suasana hubungan antara pegawai dalam organisasi?
a. baik dan akrab
8 3
b. terkotak-kotak dalam kelompok masing-masing
c. kurang begitu akrab
3. Bagaimana sikap anda (pegawai) terhadap program pembentukan manusia
pariwisata?
a. sangat setuju, karena itu yang menjadi prioritas
b. kurang adil, karena tidak memperhatikan yang bagian komunikasi
c. tidak begitu mengesankan
4. Bagaimana penilaian anda mengenai situasi kerja di bagian anda masingmasing?
a. sangat kondusif dan membuat senang bekerja
b. biasa saja
c. kurang nyaman
5. Bagaimana perlakukan organisasi terhadap anda?
a. sangat memperhatikan kebutuhan pegawai
b. biasa saja
c. tidak peduli
B. Kompetensi Manusia Pariwisata
1. Program apa saja yang anda ikuti dalam meningkatkan kemampuan yang anda
miliki, khususnya menyangkut pelaksanaan tugas kerja anda?
a. pendidikan dan pelatihan di bidang yang sedang diemban
b. diklat di luar
c. jarang mengikuti
2. Apakah anda tahu maksud manusia pariwisata? Tolong jelaskan!
a. mengetahui
b. sedikit
c. tidak tahu
3. Kemampuan apa saja yang harus dimiliki oleh manusia pariwisata di
DISPARINKOM Gresik?
a. kemampuan pariwisata dan komunikasi
8 4
b. kemampuan pariwisata, karena itu lebih utama
c. komunikasi, karena merupakan syarat pariwisata
4. Bagaimana cara meningkatkan dan mengembangkan kompetensi SDM di
DISPARINKOM Gresik?
a. sering-sering melakukan diklat
b. diberi dana yang cukup untuk kursus bagi pegawai
c. memberi hadiah kepada yang berprestasi
5. Apakah program peningkatan kompetensi yang ada sudah sesuai dengan
kebutuhan, kondisi organisasi serta tuntutan masyarakat? Jelaskan!
a. sudah
b. cukup
c. belum
6. Apakah anda mencintai pekerjaan anda di bidang pariwisata?
a. ya
b. sedang
c. tidak
8 5
Lampiran 2:
Untuk mendapatkan informasi yang lebih beragam, rinci, dan lengkap, dalam
proses pengumpulan data diperlukan wawancara yang didukung oleh catatan
lapangan seperti berikut:
Nama :
Jabatan :
No.Responden :
Waktu Kontak : Tempat:
Keterangan tambahan :
Soal A2………………………………..(contoh)
Manusia pariwisata ……………………………………(contoh)
8 6

Rabu, 18 Maret 2009

KALIMAT TUNGGAL

TATA KALIMAT
Sumber: www.belajar-gratis.com

I. PENGENALAN INTIFRASE UNTUK MENGETAHUI INTI MAKNA

Frase: Satuan gramatikal (himpunan kata) yang merupakan kesatuan linguistik dan tidak melebihi fungsi S, P, O, dan K.

Untuk mengetahui intifrase tidaklah sulit, demikian pula untuk mengetahui inti makna, keduanya saling berkait dan saling bersesuaian. Dimana titik (inti) makna berada disitulah intifrasenya.

Jadi untuk mengetahui inti frase harus dipahami dulu makna frase tersebut :

Contoh:
1. selalu banyak alasan
2. rumah yang indah
3. tidak jadi pergi
4. orang yang tinggi besar
5. cantik sekali

II. PERBANDINGAN POLA PEMBENTUKAN FRASE

Pola frase yang sering dibahas dan ditanyakan dalam tes-tes, berdasarkan kelas atau jenisnya :

-Frase Nominal :

-gedung sekolah
-surat kabar harian
-pertunjukan drama

-Frase Verbal :

-sedang makan
-sudah pergi
-terlalu belajar

-Frase Adjektival :

-sangat cantik
-agak malas
-terlalu berat

-Frase Adverbial :

-kemarin siang
-tadi malam
-bulan depan

-Frase Preposisional :

-di Jakarta
-dari Surabaya
-untuk adiknya

III. PERBANDINGAN POLA KALIMAT

1.

Kalimat Tunggal
Kalimat yang hanya terdiri dari unsur inti (S,P) atau satu klausa saja.

Contoh :

-

Ayah seorang guru SMP.

-

Guru bahasa Inggris disekolahku akan melawat ke Amerika Serikat.

-

Ibu sakit.

Ketiga contoh di atas masing-masing hanya mengandung satu klausa saja. Pada contoh kedua, pola kalimat tersebut diperluas namun tidak sampai membentuk pola kalimat baru.

2.

Kalimat Majemuk Setara
Kalimat yang terdiri dari dua atau lebih unsur inti (rangkaian S,P) dan keduanya saling bergantung atau sama derajatnya.

Contoh :

-

Ayah membaca buku, Ibu memasak di dapur

-

Tuti tidak senang bernyanyi, tetapi ia senang musik

-

Rudi tidak saja melihat, bahkan ia yang pertama kali menolong korban itu

3.

Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat yang terdiri dari dua atu lebih unsur inti (rangkaian S,P) dan salah satu unsurnya menjadi bagian dari unsur yang lain.

Contoh :

-

(karena) ibu sakit, ayah memasak

-

Toni datang (ketika) saya sedang mandi

-

(Walaupun) orang tuanya melarang, ia tetap berangkat

Keterangan :

1.

Klausa yang dilekati konjungsi dinamakan anak kalimat, sedang yang tidak dilekati dinamakan induk kalimat.

2.

Perbandingan pola kalimat berdasarkan jenis kata atau fungsi dapat anda ingin pola dasar kalimat bahasa indonesia.

IV. PENENTUAN POLA KALIMAT INTI DALAM KALIMAT LAIN

Sebuah kalimat tunggal terdiri satu rangkaian unsur inti (S, P). Perluasan dari kalimat tunggal biasanya tidak melampaui batas (S, P) atau tidak membentuk pola kalimat baru.

Cara menentukan kalimat inti dari kalimat perluasan sebagai berikut :
Orang yang tinggi besar itu sama sekali bukan tetangga pamanku.
Kalimat intinya: Orang itu pamanku.

Ia berlari dengan cepat agar tidak terlambat.
Kalimat intinya: Ia berlari.

Hal tersebut didasarkan pada pengertian bahwa gatra/jabatan kalimat terbagi sebagai
berikut:
-Gatra inti: Subjek dan Predikat
-Gatra tambahan: Objek (tambahan erat), Keterangan (tambahan longgar).

Dengan demikian penentuan kalimat inti segera dapat diketahui dengan mengambil Subjek dan Predikat intinya.

Adapun ciri-ciri kalimat inti adalah sebagai berikut :
- bersusun S/P
- terdiri atas dua kata (S bisa ditambah ini, itu)
- kalimat berita
- positif

Dari dua contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa kalimat inti dari kalimat perluasan
adalah rangkaian dari subjek inti (yang dipokokkan) dengan predikat inti (yang
menerangkan pokok).

V. PENENTUAN KEEFEKTIFAN KALIMAT

Kalimat efektif yang sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya, antara
pikiran pembaca dengan pikiran penulisnya.

Dasar-dasar penguasaan kebahasaan yang mendukung keefektifan kalimat antara
lain : kosa kata yang tepat, kaidah sintaksis, dan penalaran yang logis.

Bandingkan :
- Walaupun ia tidak sekolah namun semangatnya berkobar.
- Ia tidak pernah sekolah namun semangatnya berkobar.
- Walaupun ia tidak pernah sekolah semangatnya berkobar.
- Di Solo menyelenggarakan perayaan sekaten.
- Solo diselenggarakan perayaan sekaten.
- Di Solo diselenggarakan perayaan sekaten.
- Solo menyelenggarakan perayaan sekaten.

Dari contoh-contoh tersebut manakah yang termasuk kalimat efektif ?

VI. PERLUASAN KALIMAT DAN TRANSFORMASI KALIMAT

1.

Perluasan Kalimat
Perluasan kalimat, diawali dari kalimat yang mengandung dua unsur pusat, kemudian ditambah satu unsur tambahan atau lebih.

Karena predikatnya tergolong transitif, maka kehadiran objek menjadi wajib. Apabila kalimat tersebut diperluas, bisa menjadi kalimat majemuk bertingkat seperti :

2.

Transformasi Kalimat
Kalimat Transformasi : kalimat yang telah berubah struktur gramatikalnya dari kalimat inti menjadi struktur gramatikal baru.

Transformasi kalimat bisa ditempuh dengan cara :

a. Perluasan :

Kami pergi. (inti)
Kami belum akan pergi ke sana.
(transformasi) ? kalimat luas.

b. Pengurangan :

Kota ini indah. (inti)
Kota ini.
(transformasi) ? kalimat Elips.

c. Permutasi :

Siti belajar. (inti)
Belajar Siti.
(transformasi) ? kalimat Inversi.

d. Pengubahan :

Ibu sakit. (inti)
Ibu Sakit ? (transformasi) ? kalimat Tanya
Budi turun ! (transformasi) ? kalimat Perintah

VII. KATA PENGHUBUNG KALIMAT

- tetapi, meskipun, walaupun, namun

: mempertentangkan

- atau

: memilih

- bahkan, sekalipun

: menguatkan

- dan

: menambah, menyetarakan

- sehingga

: menyimpulkan

VIII. FUNGSI KATA DALAM KALIMAT

- sejak, lalu, kemudian, seketika itu

: waktu

- dimana, di sana, di dalam

: tempat

- untuk, agar, supaya

: fungsi

- karena, sebab

: sebab-akibat

Home | Kembali ke atas | Buka File/Print

Jumat, 13 Maret 2009

KONTRADIKSI

Kau gadis manis jelmaan bidadari

Dan aku persis monyet yang belum mandi

Matamu benung sebening air surgawi

Mataku keruh sekeruh kencing sapi

Kau tersenyum semua lelaki pada kepikut

Aku tersenyum semua gadis pada semaput

Suaramu melengking tinggi dan elok

Suaraku bernada minor seperti suara kodok

Gayamu selalu renyah dan renyai

Gayaku adalah gaya seekor cacing yang sedang lunglai

Aroma ditubuhmu membuat lelaki bernafas terus

Dan bajuku sedap oleh bau kotoran tikus

Tapi apakah kita masih bisa saling bercita ?

TAK LAGI

Tak ada lagi yang bisa kuharapkan

Ketika berdiri ditengah tembok ini

Karena namaku

Telah terpetakkan

Entah untuk yang keberapa kali

Waktu demi waktu

Terbaca satu-satu

Dan

Engkaupun tinggal menunggu waktu

Kapan ajal ketemu

Kini

Aku hanya bisa berkata

“ Tak lama “

Kau akan mandi kesumatku

MADAH RESAH GARONG BEKAS

Dulu saudara!!

Aku adalah seorang garong

Pemetik hidup dari ujung belati

Saudara!!

Aku mau bermadah

Dengarlah dengan bersih hati bocah

Ketika aku disana

Wajah tengadah hati bernyanyi

Hidup memang harus begini

Terpaut buntut tak ter henti

Pak Polisi !!!

Beri aku surat martabat penyambung hayat

Pak Polisi !!!

Hatiku tiada nikmat

Kerja laknat muncrat dari mulu yang hamoir sekarat

Dan

“Angkat bahu”

Jawab pak Polisi tak mau tahu

Saudara!!

Ketika aku dipenjara

Dating dan berkatalah seorang pekabar kabar gembira

“ ANAKKU KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT BERJAGA-JAGALAH’

Saudara !!

Mengapa kabar gembira hanya dimoncong belaka ??

Mana kerja dan buktinya ??

Aku hanya mencicil bila makan injil

Dan pada manusia aku berkata

“ Aku seorang baik-baik saudara “

Marilah ikut aku serta

Mereka tertawa!

Tertawa saudara !!

Tersis\rat artian dari tawa mereka

Haiiiiiii….oooo…iiii

Jangan percaya omong kosong monyong garong

Tetapi kata-kata Rendra menyapa

“ Dan pada penjahat paling laknat

Pandanglah dari jendela hati paling bersih

Karma hati,hati sudah mati

sana sini kosong sepi

Saudaraku

Itulah madahku

Kapan aku jadi temanmu ???

KALIMAT MAJEMUK

Kalimat Majemuk = Kalimat tersusun

Ada 4 macam kalimat majemuk/kalimat tersusun, yakni kalimat majemuk setara, kalimat majemuk rapatan, kalimat majemuk bertingkat, dan kalimat majemuk berganda.Yang akan masuk dalam pengajian adalah kalimat majemuk setara dan kalimat majemuk bertingkat.

A. Kalimat Majemuk setara
a. Batasan
Kalimat majemuk setara dalah kalimat majemuk yang terdidri atas beberapakalimat yang setara atau sederajat kedudukannya, yang masisng-masing dapat berdiri sendri.
b. Pembagian kalimat majemuk setara
1. Kalimat majemuk setara sejalan
Kalimat majemuk setara sejalan ialah kaliamat majemuk setara yang terdiri atas beberapa kalimat tunggal yang bersamaan situasinya
Contoh:
Juminten pergi ke pasar, Parno berangkat ke bengkel, sedang Ganes pergi ke kebun binatang
Catatan:
a. Kata-kata yang penghubung yang dapat dipakai dalam kalimat majemuk setara sejalan ialah: dan, dan lagi, lagi pula, sedang, sedangkan, lalu, kemudian.
b. Dalam meguraikan menurut jabatannya, hendaknya selalu dibiasakan menempuh cara-car sebagai berikut:
1. Kalimat yang hendak diuraikan dikutip lebih dahulu.
2. Memberi nama kalimat yang akan diuraikan.
3. Kemudian baru bagian-bagian kalimat diuraikan menurut jabatannya sebagai berikut:
a. Kata-kata yang hendak diuraikan ditempatkan di sebelah kiri.
b. Jabatan-jabatan kalimat ditempatkan di sebelah kanan.


Contoh uraian kalimat:
Juminten pergi ke pasar, Norif berangkat ke bengkel, sedang Ganes pergi ke kebun binatang.
I. Kalimat tersebut adalah kalimat majemuk setara sejalan.
II. a. Juminten pergi ke pasar.
Juminten = subjek
Pergi = predikat
Ke pasar = keterangan tempat
b. Norif berangkat ke bengkel
Norif = subjek
Berangkat = predikat
ke bengkel = keterangan tempat
c. Ganes pergi ke kebun binatang.
a. Ganes = subjek
b. pergi = predikat
c. ke kebun binatang = keterangan tempat

2. Kalimat Majemuk Setara Berlawanan
Kalimat majemuk setara berlawanan ialah kalimat majemuk setara yang terdiri atas beberapa kalimat tunggal yang isinya menyatakan situasi berlawanan.
Contoh:
Adiknya pandai, sedang kakaknya bodoh.
Rahmad berani, tetapi ia tidak mau bertengkar.
Catatan:
a. Kata-kata penhubung yang dapat dipakai dalam kalimat majemuk setara berlawanan antara lain ialah: sedangkan, tetapi, melainkan, padahal, hanyalah, walaupun, meskipun, biarpun, kendatipun, jangankan, namun.
b. Contoh uraian kalimat:
Rahmad berani, tetapi ia tidak mau bertengkar.
I. Kalimat tersebut adalah kalimat majemuk setara berlawanan
II. a. Rahmad berani
Rahmad = subjek
Berani = predikat
b. ia tidak mau bertengkar.
Ia = subjek
tidak mau bertengkar = predikat

3. Kalimat Majemuk Setara yang menyatakan sebab akibat
Kalimat Majemuk Setara yang menyatakan sebab akibat ialah kalimat majemuk setara yang terdiri atas beberapa kalimat tunggal yang isi bagian yang satu menyatakan sebab akibat dari bagian yang lain.
Contoh:
Roy Marten ditahan, karena ia telah membawa sabu-sabu.
Anak itum luka parah, sehingga ia harus dibawa ke rumah sakit.
Catatan:
a. Kata-kata penghubung yang dapat dipakai dalam kalimat majemuk setara yang menyatakan sebab akibat antara lain ialah: sebab, karena, oleh karena itu, sehingga, maka.
b. Contoh uraian kalimat
Roy Martien ditahan, karena ia telah membawa sabu-sabu.
I. Kalimat tersebut adalah kalimat majemuk setara yang menyatakan sebab akibat.
II. a. Roy Martien ditahan
Roy Martien = subjek
ditahan = predikat
b. ia telah membawa sabu-sabu.
Ia = subjek
telah membawa = predikat
sabu-sabu = objek

B. Kalimat Majemuk Bertingkat
a. Batasan
Kalimat Majemuk bertingkat ialah kalimat yang terjadi dari beberapa kalimat tunggal yang kedudukanya tidak setara/ sederajat, yakni yang satu menjadi bagian yang lain.

b. Proses Terjadinya Kalimat Majemuk Bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat sesungguhnya berasal dari sebuah kalimat tunggal. Bagian dari kalimat tunggal tersebut kemudian diganti atau diubah sehingga menjadi sebuah kalimat baru yang dapat berdiri sendiri.
Bagian kalimat majemuk bertingkat yang berasal dari bagian kalimat tunggal yang tidak mengalami pergantian/ perubahan dinamakan induk kalimat, sedang bagian kalimat majemuk yang berasal dari bagian kalimat tunggal yang sudah mengalami penggantian/ peubahan dinamakan anak kalimat.
Contoh:
Ia datang kemarin. Kalimat tunggal tersebut ialah kalimat tunggal yang mempunyai keterangan waktu: kemarin. Jika kata kemarin diganti/ diubah menjadi kalimat yang dapat berdiri sendiri, yakni diubah/ diganti dengan kalimat: ketika orang sedang makan, maka berubahlah kalimat tunggal tersebut menjadi kalimat majemuk bertingkat sebagai berikut: Ia datang, ketika orang sedang datang.
Perkataan: ia datang (yang tidak pernah mengalami perubahan/ pergantian) dinamai induk kalimat, sedang perkataan: ketika orang sedang makan (yang mengubah/ mengganti kata kemarin) dinamai anak kalimat.

c. Macam Anak Kalimat
Ada bermacam-macam anak kalimat dalam kalimat majemuk bertingkat. Hal itu bergantung kepada bagian kalimat tunggal mana yang diubh/ digantinya. Karena itu macam anak kalimat dalam kalimat majemuk bertingkat dapat diperinci sebagai berikut:

1. Anak kalimat pengganti subyek
Contoh:
Siapa bersalah, akan dihukum.
Yang mencuri sepeda saya, telah ditangkap polisi.
Contoh uraian kalimat:
Yang mencuri sepeda saya, telah ditangkap polisi.
G Kalimat tersebut ialah kalimat majemuk bertingkat
G A. Telah ditangkap polisi = induk kalimat
Ditangkap = predikat
Polisi = obyek/ pelengkap pelaku
Telah = keterangan waktu/ keterangan modalitas.
B. Yang mencuri sepeda saya = anak kalimat pengganti subyek
Yang = subyek
Mencuri = predikat
Sepeda saya = obyek/ pelengkap penderita
Catatan:
Tiap kali hendak menguraikan kalimat majemuk bertingkat, hendaknya lebih dulu diusahakan mencari/ menyelidiki kalimat tunggal mana yang menjadi asal kalimat majemuk bertingkat itu. Dengan cara itu kita akan mudah mencari induk kalimat dan anak kalimat dari kalimat majemuk bertingkat yang hendak kita uraikan.
2. Anak kalimat pengganti predikat
Anak kalimat pengganti predikat hanya terdapat pada kalimat nominal.
Contoh:
Rumah itu batu. (kalimat tunggal)
Rumah itu bahannya terbuat dari benda keras. (kalimat majemuk bertingkat)
3. Anak kalimat pengganti obyek/ pelengkap penderita
Contoh:
Basir mencintai Nova. (kalimat tunggal)
Basir mencintai yang sangat dikasihinya. (kalimat majemuk bertingkat)
4. Anak kalimat pengganti obyek/ pelengkap pelaku
Contoh:
Ali ditikam oleh penjahat. (kalimat tunggal)
Ali ditikam oleh orang yang menggedor pintu rumahnya semalam. (kalimat majemuk bertingkat)
5. Anak kalimat pengganti obyek/ pelengkap penyerta
Contoh:
Norief memberikan uang kepada anaknya. (kalimat tunggal)
Norief memberikan uang kepada yang menumpang di Surabaya. (kalimat majemuk bertingkat)
6. Anak kalimat pengganti obyek/ pelengkap berkata depan
Contoh:
Ia rindu kepada ibunya. (kalimat tunggal)
Ia rindu kepada yang memeliharanya sejak kecil. (kalimat majemuk bertingkat)
7. Anak kalimat pengganti obyek pasangan
Contoh:
Kami telah berunding dengan Bpk. Susilo Bambang Yudhoyono. (kalimat tunggal)
Kami telah berunding dengan yang memimpin negara Indonesia. (kalimat majemuk bertingkat)
8. Anak kalimat pengganti obyek alat
Contoh:
Norief bersenjatakan pena. (kalimat tunggal)
Norif bersenjatakan yang dibuat untuk menulis. (kalimat majemuk bertingkat)
9. Anak kalimat pengganti keterangan tempat
Contoh:
Henny pergi ke pasar. (kalimat tunggal)
Henny pergi ke yang dikunjungi orang tiap hari. (kalimat majemuk bertingkat)
10. Anak kalimat pengganti keterangan waktu
Contoh:
Anis datang kemarin. (kalimat tunggal)
Anis datang ketika orang sedang sholat. (kalimat majemuk bertingkat)
11. Anak kalimat pengganti keterangan sebab
Contoh:
Basir tidak berkuliah karena sakit. (kalimat tunggal)
Basir tidak berkuliah karena jiwanya terganggu. (kalimat majemuk bertingkat)
12. Anak kalimat pengganti keterangan alasan
Contoh:
Saya tidak pergi karena hujan. (kalimat tunggal)
Saya tidak pergi karena suasana yang tidak mengizinkan. (kalimat majemuk bertingkat)
13. Anak kalimat pengganti keterangan akibat
Contoh:
Basir dianiaya sehingga sakit. (kalimat tunggal)
Basir dianaya sehingga badannya terbaring. (kalimat majemuk bertingkat)
14. Anak kalimat pengganti keterangan alat
Contoh:
Ia menikam dengan pisau. (kalimat tunggal)
Ia menikam dengan yang dibelinya kemarin. (kalimat majemuk bertingkat)
15. Anak kalimat pengganti keterangan asal
Contoh:
Sepatunya Norief terbuat dari emas. (kalimat tunggal)
Sepatunya Norief terbuat dari bahan yang diinginkannya. (kalimat majemuk bertingkat)
16. Anak kalimat pengganti keterangan syarat
Contoh:
Kalau begitu, saya tidak mau mengajak . (kalimat tunggal)
Kalau kamu nakal, saya tidak mau mengajak. (kalimat majemuk bertingkat)
17. Anak kalimat pengganti keterangan tujuan
Contoh:
Tora Sudiro belajar keras agar lulus. (kalimat tunggal)
Tora Sudiro belajar keras agar cita-citanya tercapai. (kalimat majemuk bertingkat)
18. Anak kalimat pengganti keterangan kualitas
Contoh:
Boneng tersenyum manis. (kalimat tunggal)
Boneng tersenyum seperti yang kita lihat. (kalimat majemuk bertingkat)
19. Anak kalimat pengganti keterangan perihal
Contoh:
Dengan tertawa ia menjawab pertanyaan itu. (kalimat tunggal)
Dengan mulut tertawa lebar ia menjawab pertanyaan itu. (kalimat majemuk bertingkat)
20. Anak kalimat pengganti keterangan perlawanan
Contoh:
Meskipun mendung, ia berangkat juga. (kalimat tunggal)
Meskipun cuaca buruk, ia berangkat juga. (kalimat majemuk bertingkat)
21. Anak kalimat pengganti keterangan kuantitas
Contoh:
Mereka berjalan seratus kilometer. (kalimat tunggal)
Mereka berjalan jauh sekali jaraknya. (kalimat majemuk bertingkat)
22. Anak kalimat pengganti keterangan derajat
Contoh:
Udara itu dingin sekali. (kalimat tunggal)
Uadara itu tak terperikan rasanya. (kalimat majemuk bertingkat)
23. Anak kalimat pengganti keterangan modalitas
Contoh:
Mungkin ia meninggal di sana. (kalimat tunggal)
Desas-desus tersiar ia meninggal di sana. (kalimat majemuk bertingkat)
24. Anak kalimat pengganti keterangan perbandingan
Contoh:
Paimo lebih rajin daripada Mopai. (kalimat tunggal)
Paimo lebih rajin daripada orang yang mirip dengannya itu. (kalimat majemuk bertingkat)
25. Anak kalimat pengganti keterangan perwatasan
Contoh:
Semua tahanan dibebaskan, kecuali Basir. (kalimat tunggal)
Semua tahanan dibebaskan, kecuali yang berseragam merah jambu itu. (kalimat majemuk bertingkat)
Cataanak kalimat pengganti obyek/ pelengkaptan:
Dalam kalimat majemuk bertingkat kadang-kadang dipergunakan kalimat langsung dan kalimat tak langsung.
G Kalimat langsung
Ali mengatakan, ”saya pergi kemarin”.
Kata Ali ”saya pergi kemarin”.
G Kalimat tak langsung
Ali mengatakan bahwa ia pergi kemarin.
Kata Ali, ia pergi kemarin.

d. Cucu Kalimat
Dalam kalimat majemuk bertingkat kadang-kadang terdapat cucu kalimat, yaitu anak dari anak kalimat. Cucu kalimat tersebut terjadi jika bagian kalimat dari anakkalimat diubah/ diganti menjadi sebuah kalimat yang dapat berdiri sendiri.
Contoh:
Norief menyepak bola. (kalimat tunggal)
Ia menyepak yang disenangi oleh adiknya. (kalimat majemuk bertingkat yang mempunyai anak kalimat pengganti obyek/ pelengkap penderita)
Ia menyepak yang disenangi oleh yang memakai baju baru itu. (kalimat majemuk bertingkat yang mempunyai cucu kalimat pengganti obyek/ pelengkap pelaku pada anak kalimat)